Mahasiswa Pascasarjana
Program Doktor Islamic Studies UIN Walisongo Semarang
Konsentrasi Studi Qur'an (Tafsir)

Alumnus Pascasarjana
Program studi Ulumul Qur'an dan Tafsir, program beasiswa Kader Ulama Kemenag RI,
Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Jawa Tengah.

Alumnus Pascasarjana
Program Studi Agama dan Filsafat
Konsentrasi Studi Qur'an dan Hadits
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Alumnus Sarjana Fakultas Ushuluddin
Program Studi Tafsir dan Hadis
IAIN Walisongo Semarang

Loading...

SELAMAT DATANG DI BLOG NYA AHLUL QUR'AN DAN HADITS

Kalian yang ingin mengakses informasi akademik seputar perkembangan keilmuan al-Qur'an dan Hadits;konsultasi seputar tafsir al-Qur'an dankajian Hadits, dakwah, hukum,syari'ah, akidah, etika, ahlak, masalah keluarga dll bisa berbagi sharing dan diskusi keilmuan dengan saya, silakan hubungi email saya: ad_damarjati@yahoo.com

www.ustadzmustofakamal.blogspot.com

Memuat...

Rabu, 16 Desember 2009

PENDEKATAN SOSIOLOGI DALAM PENELITIAN AGAMA

PENDEKATAN SOSIOLOGI DALAM PENELITIAN AGAMA

Oleh: Mustofa kamal, S.Th.I

A. PENDAHULUAN

Mengkaji fenomena keagamaan berarti mempelajari perilaku manusia dalam kehidupan beragamanya. Fenomena keagamaan itu sendiri adalah perwujudan sikap dan perilaku manusia yang menyangkut hal-hal yang dipandang suci, keramat yang berasal dari hal-hal yang bersifat ghaib. Ilmu pengetahuan sosial dengan caranya masing-masing atau metode, teknik dan peralatannya dapat mengamati dengan cermat perilaku manusia itu, hingga menemukan segala unsur yang menjadi komponen terjadinya perilaku itu. Ilmu sejarah mengamati proses terjadinya perilaku itu, sosiologi menyorotinya dari sudut posisi manusia yang membawanya kepada perilaku itu, dan antropologi memperhatikan terbentuknya pola-pola perilaku itu dalam tatanan nilai yang dianut dalam kehidupan manusia.[1] Kalau kita mencoba menggambarkannya dalam pendekatan sosiologi, maka fenomena-fenomena keagamaan itu berakumulasi pada perilaku manusia dalam kaitannya dengan struktur-struktur kemasyarakatan dan kebudayaan yang dimiliki, dibagi dan ditunjang bersama.[2]

Ilmu agama, pada segi yang manyangkut masalah sosial, diamati dengan metodologi ilmiah. Metodologi ini ditentukan oleh obyek yang dikaji, bukan sebaliknya. Kalau segi tertentu agama yang berada pada posisi fenomena sosial, maka metode pengkajiannya menggunakan ilmu-ilmu sosial.

“Beragama”[3] sangat terkait dengan kepedulian kita kepada lingkungan sekitar. Sebagai contoh dalam al-Qur’an kata-kata wahai orang-orang beriman selalu diiringi dengan aktifitas beramal saleh. Ini menunjukkan bahwa disaat orang menyatakan dirinya beriman ia juga harus beramal saleh, selalu concern dengan kondisi sekitarnya. Kita pantas memperoleh predikat manusia beriman hanya disaat kita tidak berbuat zalim kepada orang lain, ketika kita memperdulikan nasib orang lain. Pertanyaan yang pantas diajukan adalah apakah ada hubungan sosiologis antar aktifitas beriman dengan beramal saleh serta aktifitas dalam bermasyarakat sebagai standar keimanan? Islamkah kita bila kehidupan sehari-hari kita rajin shalat, puasa, sementara membiarkan tetangga kita tak bisa tidur karena kelaparan? Islamkah kita bila dalam berekonomi usaha kita makin mekar karena yang lebih kecil kita tindas?

Itulah sekelumit kecil fenomena penelitian dalam tatanan keberagamaan seorang individu dalam tatanan masyrakat. Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekedar disampaikan dalam khotbah, melainkan secara konsepsional menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.

Cendekiawan Nur Kholis Majid pernah menulis bahwa “Islam adalah agama kemanusiaan terbuka…maka umat Islam harus kembali percaya sepenuhnya pada kemanusiaan”.[4] Kalimat itu cukup berani karena ”percaya pada kemanusiaan” bukan cara bicara lazim di kalangan agama. Dengan bicara seperti itu Cak Nur menegaskan bahwa iman kepada Allah yang tidak disertai sikap positif terhadap manusia belum merupakan iman dalam arti yang sebenarnya. Disinilah peran ilmu-ilmu sosial mengejawentahkan pemahaman agama yang sebenarnya dalam kerangka menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme. Aspek-aspek sosiologis antar manusia menjadi pertimbangan penting dalam meneliti praktik kehidupan beragama sebagai bagian dari tatanan masyarakat, yaitu membentuk masyarakat yang humanis dan religius.

Pendekatan sosiologis dibedakan dari pendekatan studi agama lainnya karena fokus perhatiannya pada interaksi antara agama dan masyarakat Pra-anggapan dasar perspektif sosiologis adalah concern-nya pada struktur sosial, konstruksi pengalaman manusia dan kebudayaan termasuk agama.[5] Dalam pembahasan makalah ini, kami mencoba menelaah tentang konsep penelitian agama[6] ini melalui pendekatan ilmu sosiologi, sehingga yang diharapkan nanti mampu memberikan kontribusi dalam menjawab fenomena-fenomena keberagamaan dalam masyarakat dalam konteks perilaku sosial masyarakat.

B. PEMBAHASAN

1. Pengertian Sosiologi

Sosiologi[7] pada hakikatnya bukanlah semata-mata ilmu murni (pure science) yang hanya mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak demi usaha peningkatan kualitas ilmu itu sendiri, namun sosiologi bisa juga menjadi ilmu terapan (applied science) yang menyajikan cara-cara untuk mempergunakan pengetahuan ilmiahnya guna memecahkan masalah praktis atau masalah sosial yang perlu ditanggulangi.[8] Saat ini banyak definisi resmi mengenai sosiologi. Berikut ini definisi-definisi sosiologi yang dikemukakan beberapa ahli:[9]

Ø Pitirim Sorokin: Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.

Ø Roucek dan Warren: Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.

Ø William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf: Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.

Ø J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers: Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.

Ø Max Weber: Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.

Ø Paul B. Horton: Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.

Ø Soejono Sukamto: Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.

Ø William Kornblum: Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.

Ø Allan Jhonson: Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem tersebut.

Dari berbagai definisi sosiologi diatas dapat disimpulkan bahwa Sosiologi adalah ilmu yang membicarakan apa yang sedang terjadi saat ini, khususnya pola-pola hubungan dalam masyarakat serta berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional, empiris serta bersifat umum.

Menurut Selo Soemardjan dan Soeleman Soemardi mendefinisikan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial termasuk perubahan sosial.[10] Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antar unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan sosial. Sedangkan proses sosial adalah pengaruh timbal balik antar pelbagai segi kehidupan bersama. Singkat kata, dapat dikatakan bahwa sosiologi tidak hanya merupakan suatu kumpulan sub-disiplin segala bidang kehidupan, melainkan merupakan suatu studi tentang masyarakat. Sosiologi memandang kehidupan bermasyarakat dengan caranya sendiri.

Pada dasarnya, sosiologi dapat dipahami sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan sosial manusia dalam tatanan kehidupan bersama. Ilmu ini memusatkan telaahnya pada kehidupan kelompok dan tingkah laku sosial lengkap dengan produk kehidupannya. Sosiologi tidak tertarik pada hal-hal yang sifatnya kecil, pribadi, dan unik. Sebaliknya, ia tertarik pada hal-hal yang bersifat besar dan substansial serta dalam konteks budaya yang luas. Sosiologi lebih menekankan perhatiannya pada persoalan pengaruh kelompok pada sikap-sikap dan perilaku anggotanya. Namun yang perlu ditegaskan, sosiologi hanya dapat meneliti dan memahami yang lahiriyah (manifest). Selebihnya, mereka hanya bisa berspekulasi untuk meramalkan makna yang sebenarnya (latent).[11]

Sosiologi sebagai ilmu mempunyai dimensi-dimensi ilmu sosial. Pada dasarnya, dikenal empat jenis dimensi dalam pendekatan teori sosial yaitu:[12]
1) Dimensi kognitif.

Dalam dimensi ini, ilmuwan sosial akan selalu berbicara mengenai teori sosial sebagai cara untuk membangun pengetahuan tentang dunia sosial. Di sini terletak epistemologi yang membangun berbagai metodologi penelitian sosial.

2) Dimensi afektif.

Merupakan sebuah kondisi di mana teori yang dibangun memuat pengalaman dan perasaan dari teoretisi yang bersangkutan. Dimensi ini mempengaruhi keinginan untuk mengetahui (to know) dan menjadi benar (to be right) – kedua hal ini bertitik berat kepada kejadian tertentu dan realitas eksternal.

3) Dimensi reflektif.

Di sini, teori sosial harus menjadi bagian dari dunia sebagaimana ia menjadi cara untuk memahami dunia. Dengan kata lain, teori sosial harus mencerminkan apa yang terjadi di luar sana dan apa yang terjadi pada kita sebagai salah satu elemen dari sistem sosial yang ada.

4) Dimensi normatif, yang memperluas dimensi ketiga.

Dalam dimensi ini, teori sosial sepantasnya memuat secara implisit ataupun eksplisit tentang bagaimana seharusnya dunia yang direfleksikannya itu. Keempat dimensi ini membangun seluruh pendekatan dalam proses kostruksi teori-teori sosial yang ada.

2. Perkembangan Sosiologi

Awal mula perkembangan sosiologi bisa dilacak pada saat terjadinya revolusi perancis dan revolusi industri sepanjang abad 19 yang menimbulkan kekhawatiran, kecemasan dan sekaligus perhatian dari para pemikir di waktu itu tentang dampak yang ditimbulkan dari perubahan dahsyat di bidang politik dan ekonomi kapitalistik di masa itu. Para tokoh yang dianggap mencetuskan ide-ide sosiologi yang dikenal dengan teori klasik diantaranya adalah Durkheim, Weber, Simmel, Marx, Spencer, dan Comte di Eropa; dan Summer, Mead, Cooley, Thomas, dan Znaniecki di Amerika. Sedangkan para sosiologi masa kini diantaranya seperti Merton, Parsons, Homans, Blau dan Goffman, atau aliran-aliran teori sosiologi masa kini seperti fungsionalisme, interaksionalisme simbol, teori konflik/teori kritis, teori pertukaran, pendekatan fenomonologis atau etmonologi.[13]

Semenjak kelahirannya, sosiologi concern dengan studi agama, meskipun perhatian sosiologi terhadap agama menguat dan melemah. Karya-karya founding fathers sosiologi, termasuk Comte, Durkheim, Marx, dan Weber, sering mengacu pada wacana-wacana teologis atau studi perilaku dan sistem keyakinan keagamaan. Namun demikian, di pertengahan abad-20, sosiolog-sosiolog baik di Eropa maupun Amerika Utara, melihat bahwa agama memiliki signifikansi marginal dalam dunia sosial, dan sosiologi agama bergerak dalam garis tepi studi sosiologis. Seiring dengan datangnya apa yang oleh sebagian orang disebut dengan postmodernitas, dan sebagian lainnya menyebutnya dengan modernitas tinggi atau terkini (high or late modernity) dan bangkitnya agama dalam beragam kontek global, agama kembali memperoleh signifikansi sosiologis baik dalam masyarakat yang sedang berkembang, maupun di Eropa, dan Amerika Utara. Konsekuensinya, studi sosiologis terhadap agama mulai keluar dari garis tepi disiplinnya dan memanifestasikan tumbuhnya minat pada mainstream sosiologis yang memfokuskan perhatiannya di sekitar persoalan ekologi dan perwujudan, gerakan sosial dan protes sosial, globalisasi, nasionalisme, dan postmodernitas.[14]

Tokoh August Comte dan Henri Saint-Simon adalah orang yang dikenal sebagai bapak (pendiri) sosiologi karena kata sosiologi (berasal dari kata societas berarti masyarakat dan logos berarti pengetahuan) diciptakan oleh Comte. Selain itu, dia juga telah memberikan sumbangan paling besar dalam ilmu sosiologi. Kebanyakan konsep, prinsip, dan metode yang sekarang dipakai dalam sosiologi berasal darinya.[15]

Bagi Comte, sosiologi mengikuti jejak ilmu alam. Observasi empiris terhadap masyarakat manusia akan melahirkan kajian rasional dan positivistik mengenai kehidupan sosial yang akan memberikan prinsip-prinsip pengorganisasian bagi ilmu kemasyarakatan. Dalam pandangan Comte, bentuk positivistik konsepsi sosiologis akan membawa konsekuensi hilangnya agama dan teologi sebagai model perilaku dan keyakinan dalam masyarakat modern.

Comte kemudian membedakan antara sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Sosiologi statis memusatkan perhatian pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat. Sosiologi dinamis memusatkan perhatian tentang perkembangan masyarakat dalam arti pembangunan. Rintisan Comte tersebut disambut hangat oleh masyarakat luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar di bidang sosiologi. Mereka antara lain Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber, dan Pitirim Sorokin(semuanya berasal dari Eropa). Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang amat berguna untuk perkembangan Sosiologi: [16]

· Herbert Spencer memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain.

· Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yang menganggap konflik antar-kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat.

· Emile Durkheim memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.

· Max Weber memperkenalkan pendekatan verstehen (pemahaman), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan, tujuan, dan sikap yang menjadi penuntun perilaku manusia.

Sedangkan Durkheim, dalam kajian sosiologinya memfokuskan agama pada aspek fungsi, di mana agama dilihatnya sebagai jembatan ketegangan dengan suku atau kelompok lain, karena agama seringkali melahirkan keteraturan sosial dan moral, mengikat anggota masyarakat dalam suatu proyeksi kebersamaan, sekumpulan nilai dan tujuan sosial bersama. Kondisi inilah yang memperkuat fanatisme kelompok sosial sehingga saat berhadapan dengan kelompok lain yang berbeda agama, akan sangat mudah memunculkan ketegangan antar kelompok.

Setelah Durkheim, kajian sosiologi terhadap agama mengalami perkembangan yang cukup signifikan, misalnya muncul para sosiolog yang bernama Talcott Parsons, Robert Bellah, Bryan Wilson, Karl Marx, Max Weber dan beberapa sosiolog lainnya yang cukup serius mengkaji agama dengan pendekatan sosiologi, kendatipun banyak diantaranya yang memperkuat paham sekuler.

3. Karakteristik Dasar Pendekatan Sosiologis

Secara epistemologis, ilmu sosial, dalam perkembangannya lebih berkiblat pada tradisi ilmu alam dari pada humaniora. Hal ini berakibat pada pendekatan-pendekatan kuantitatif dan bahkan matematik statistical dengan parameter yang terukur juga dipakai untuk mengamati obyek sosial. Berangkat dari pendekatan positivisme dan empirisisme, mereka memanfaatkannya untuk tujuan melakukan rekayasa sosial, sama seperti ilmu alam. Namun dalam perkembangan selanjutnya, ilmu sosial memperlihatkan adanya kecenderungan pada ilmu-ilmu humaniora. Hal ini disebabkan karena para ahli sosiologi sendiri akhirnya menyadari bahwa obyek yang diteliti bukanlah benda-benda organik maupun non-organik yang dapat dihitung, diukur, maupun diotak-atik sesuai keinginan peneliti. Akan tetapi, obyek ilmu sosial adalah manusia, yang selain merupakan bagian dari alam fisik, manusia juga memiliki keinginan, nafsu, akal budi, perilaku dan keyakinan yang kompleks. Dari sini, jelas kajian sosiologis tidak bisa dilakukan dengan pendekatan ilmu-ilmu alam.

Teorisasi sosiologis tentang watak agama serta kedudukan dan signifikansinya dalam dunia sosial, mendorong ditetapkannya serangkaian kategori-kategori sosiologis, meliputi:[17]

v Stratifikasi sosial, seperti kelas dan etnisitas.

v Kategori biososial, seperti seks, gender, perkawinan, keluarga, masa kanak-kanak, dan usia.

v Pola organisasi sosial meliputi politik, produksi ekonomis sistem-sistem pertukaran, dan birokrasi.

v Proses sosial, seperti formasi batas, relasi intergroup, interaksi personal, penyimpangan, dan globalisasi.

Peran kategori-kategori itu dalam studi sosiologis terhadap agama ditentukan oleh pengaruh paradigma-paradigma utama tradisi sosiologis dan oleh refleksi atas realitas empiris dari organisasi dan perilaku keagamaan. Paradigma fungsionalis yang mula-mula berasal dari Durkheim dan kernudian dikembangkan oleh sosiolog Amerika Utara Talcott Parsons, secara khusus memiliki pengaruh kuat dalam sosiologi agama. Parsons memandang masyarakat sebagai suatu sistem sosial yang dapat disamakan dengan ekosistem. Bagian-bagian unsur sistem sosial memiliki fungsi esensial kuasi organik yang memberi kontribusi terhadap kesehatan dan vitalitas sistem sosial dan menjamin kelangsungan hidupnya.[18]

Sedangkan bagi Bryan Wilson, agama memiliki fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifesnya adalah memberikan keselamatan identitas personal dan jiwa bagi laki-laki dan perempuan. Sedangkan fungsi latennya adalah memberdayakan personal dan spiritual dalam menghadapi gangguan emosional inner, kondisi spiritual dan upaya untuk menghadapi ancaman keimanan dan penyembahan. Untuk mendapatkan gambaran dari persoalan-persoalan yang di kaji, para sosiolog menggunakan dua corak metodologi penelitian, yaitu kuantitatif dan kualitatif.

Penelitian kuantitatif dalam sosiologi agama disandarkan pada skala besar survey terhadap keyakinan keagamaan, nilai-nilai etis dan praktik kehadiran di gereja. Pendekatan seperti ini digunakan oleh Rodney Stark dan William Bainbridge dalam The Future of Religion saat mengumpulkan sejumlah besar database statistik nasional dan regional tentang kehadiran di gereja dan keanggotaan peribadatan dalam upaya menghasilkan teori sosial yang telah direvisi mengenai posisi agama dalam masyarakat modern. Sedangkan penelitian kualitatif terhadap agama disandarkan pada komunitas atau jama’ah keagamaan dalam skala kecil dengan menggunakan metode seperti pengamatan partisipan atau wawancara mendalam. Metode ini diprakarsai oleh Max Weber dan kemudian disempurnakan oleh Ernst Troeltsch dari Jerman. Jelasnya bahwa dua metode tersebut (kuantitatif dan kualitatif) dapat digunakan untuk meneliti agama melalui pendekatan sosiologi.

4. Penelitian Agama dari pendekatan Sosiologis

Penelitian agama (keagamaan) yang dimaksud di sini ialah penelitian tentang agama dalam arti ajaran, sistem kepercayaan (agama sebagai fenomena budaya) dan perilaku beragama (fenomena sosial). Sedangkan sosiologi agama dirumuskan secara luas sebagai suatu studi tentang interelasi dari agama dan masyarakat serta bentuk-bentuk interaksi yang terjadi antar mereka. Anggapan para sosiolog bahwa dorongan-dorongan, gagasan-gagasan, dan kelembagaan agama mempengaruhi dan sebaliknya juga dipengaruhi oleh kekuatan kekuatan dan stratifikasi sosial adalah tepat. Jadi seseorang sosiolog agama bertugas menyelidiki bagaimana tata cara masyarakat, kebudayaan dan pribadi-pribadi mempengaruhi agama sebagaimana agama itu sendiri mempengaruhi mereka. Kelompok-kelompok yang berpengaruh terhadap agama, fungsi-fungsi ibadat untuk masyarakat, tipologi dari lembaga-lembaga keagamaan dan tanggapan-tanggapan agama terhadap tata duniawi, interaksi langsung dan tidak langsung antara sistem-sistem religius dan masyarakat, dan sebagainya termasuk bidang penelitian sosiologi agama.

Penelitian agama seringkali tertarik untuk melihat, memaparkan, dan menjelaskan berbagai fenomena keagamaan. Juga kadang-kadang tertarik melihat dan menggambarkan pengaruh suatu fenomena terhadap fenomena lain. Untuk menggambarkan fenomena sosial keagamaan dengan baik, peneliti dapat menggunakan pendekatan sosiologis yang dimaksud dengan pendekatan sosiologis ialah: peneliti menggunakan logika-logika dan teori sosiologi baik teori klasik mapun modern untuk menggambarkan fenomena sosial keagaman serta pengaruh suatu fenomena terhadap fenomena lain.

Dalam disiplin Sosiologi Agama, ada tiga perspektif utama sosiologi yang seringkali digunakan sebagai landasan dalam melihat fenomena keagamaan di masyarakat, yaitu: perspektif fungsionalis, konflik dan interaksionisme simbolik. Masing-masing perspektif memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri bahkan bisa jadi penggunaan perspektif yang berbeda dalam melihat suatu fenomena keagamaan akan menghasilkan suatu hasil yang saling bertentangan.

Pembahasan berikut ini akan memaparkan bagaimana ketiga perspektif tersebut dalam melihat fenomena keagamaan yang terjadi di masyarakat:

a) Perspektif Fungsionalis

Perspektif fungsionalis memandang masyarakat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerjasama secara terorganisasi yang bekerja dalam suatu cara yang agak teratur menurut seperangkat peraturan dan nilai yang dianut oleh sebagian besar masyarakat tersebut. Masyarakat dipandang sebagai suatu sistem yang stabil dengan suatu kecenderungan untuk mempertahankan sistem kerja yang selaras dan seimbang.

b) Perspektif Konflik

Para penganut perspektif konflik berpandangan bahwa masyarakat berada dalam konflik yang terus-menerus diantara kelompok dan kelas, atau dengan kata lain konflik dan pertentangan dipandang sebagai determinan utama dalam pengorganisasian kehidupan sosial sehingga struktur dasar masyarakat sangat ditentukan oleh upaya-upaya yang dilakukan berbagai individu dan kelompok untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas yang akan memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka.

Salah satu pertanyaan menarik yang terlontar sebagai konsekuensi dari penempatan konflik sebagai determinan utama dalam kehidupan sosial adalah masalah kohesi sosial. Kalangan teoritisi konflik setidaknya memandang dua hal yang menjadi faktor penentu munculnya kohesi sosial ditengah-tengah konflik yang terjadi, yaitu melalui kekuasaan dan pergantian aliansi.

Dalam pandangan Marx, agama tidak hanya membenarkan ketidakadilan tetapi juga mengilustrasikan kenyataan bahwa manusia dapat menciptakan institusi-institusi sosial, dapat didominasi oleh ciptaan mereka dan pada akhirnya percaya bahwa dominasi adalah sesuatu yang sah. Jadi, dalam perspektif konflik agama lebih dilihat dalam hubungannya dengan upaya untuk melanggengkan status quo, meskipun pada tahap selanjutnya tidak sedikit kalangan yang menganut perspektif ini justru menjadikan agama sebagai basis perjuangan untuk melawan status quo sebagaimana perjuangan bangsa Amerika Latin melalui teologi liberal mereka yang populer.

c) Perspektif Interaksionisme Simbolik

Dalam wacana sosiologi kontemporer, istilah interaksionisme simbolik diperkenalkan oleh Herbert Blumer melalui tiga proposisinya yang terkenal:

Ø Manusia berbuat terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang dimiliki sesuatu tersebut bagi mereka;

Ø Makna-makna tersebut merupakan hasil dari interaksi sosial;

Ø Tindakan sosial diakibatkan oleh kesesuaian bersama dari tindakan-tindakan sosial individu.

Dengan mendasarkan pada ketiga proposisi diatas, perspektif interaksionisme simbolik melihat pentingnya agama bagi manusia karena agama mempengaruhi individu-individu dan hubungan-hubungan sosial. Pengaruh paling signifikan dari agama terhadap individu adalah berkenaan dengan perkembangan identitas sosial.

Adapun paradigma[19] yang dikembangkan dalam penelitian sosial-agama dikategorikan dalam 3 macam:[20]

1) Paradigma Positivistik, yaitu dengan menempatkan fenomena sosial dipahami dari perspektif luar (other perspective) yang bertujuan untuk menjelaskan mengapa suatu peristiwa terjadi, proses kejadiannya, hubungan antar variabel, bentuk dan polanya.

2) Paradigma Naturalistik, yaitu berdasarkan subjek perilaku yang bertujuan untuk memahami makna perilaku, simbol-simbol & fenomena-fenomena.

3) Paradigma Rasionalistik (verstehen), yaitu melihat realita sosial sebagaimana yang dipahami oleh peneliti berdasarkan teori-teori yang ada dan didialogkan dengan pemahaman subyek yang diteliti (data empirik). Paradigma ini sering digunakan dala penelitian filsafat, bahasa, agama (ajarannya) dan komunikasi yang menggunakan metode semantik, filologi, hermeneutika adan conyent analysis.

Sedangkan dalam Sosiologi agama mempelajari aspek sosial agama. Objek penelitian agama dengan pendekatan sosiologi menurut keith A. Robert memfokuskan pada:[21]

1) Kelompok-kelompok dan lembaga keagamaan (meliputi pembentukannya, kegiatan demi kelangsungan hidupnya, pemeliharaannya, dan pembubarannya.)

2) Perilaku individu dalam kelompok-kelompok tersebut (proses sosial yang mempengaruhi stasus keagamaan dan perilaku ritual.)

3) Konflik antar kelompok.

Penelitian tentang salah satu tema tersebut di atas bisa dikatakan sebagai penelitian keagamaan dengan pendekatan sosiologi.

Langkah-langkah pokok dalam proses penelitian empiris dalam penelitian agama, menurut Stuart A.Schlegel antara lain sbb:[22]

1. Peneliti haruslah mempunyai suatu pengertian tentang sifat dunia empiris yang akan ditelitinya. Di dalam ilmu sosial, ini berarti peneliti harus mempunyai gambaran tentang sifat realitas sosial.

2. Haruslah dirumuskan suatu pertanyaan tentang dunia empiris. Pertanyaan itu merupakan awal seluruh penelitian.

3. Peneliti harus menentukan data apa yang ia perlukan untuk memecahkan suatu persoalan, dan metode apa yang harus dipergunakan untuk mengumpulkan data itu.

4. Peneliti harus mampu menentukan hubungan-hubungan diantara data-data itu. Sebagian besar hasil-hasil penelitian terdiri atas hubungan-hubungan diantara kategori-kategori data. Hubungan diantara data harus cocok dengan keadaan sebenarnya.

5. Peneliti harus mampu menafsirkan hasil-hasil penelitiannya. Pada titik inilah penemuan-penemuan peneliti harus dihubungkan dengan teori lain, untuk menunjukkan bagaimana ia menunjang teori yang lain, memperluasnya atau menolaknya.

Sedangkan menurut M. Atho Mudzhar, pendekatan sosiologi agama dapat mengambil beberapa tema atau obyek penelitian, seperti:[23]

a. Studi tentang pengaruh agama terhadap perubahan masyarakat.

b. Studi tentang pengaruh struktur dan perubahan masyarakat terhadap pemahaman ajaran atau konsep keagamaan.

c. Studi tentang tingkat pengalaman beragama masyarakat.

d. Studi pola interaksi sosial masyarakat muslim.

e. Studi tentang gerakan masyarakat yang membawa paham yang dapat melemahkan atau menjunjung kehidupan beragama.

Setiap tema yang dikaji, setidaknya tetap relevan dengan teori sosiologi, baik teori fungsionalisme, konflik maupun interaksionalisme. Teori fungsionalisme dan konflik bekerja dengan cara analisis makro sosiologi yaitu memfokuskan perhatiannya pada struktur sosial. Adapun teori interaksionalisme dengan cara analisis mikro, yaitu lebih mem-fokuskan perhatiannya pada karakteristik personal dan interaksi yang terjalin antar individu.

5. Aplikasi Pendekatan Sosiologis dalam Penelitian Living Qur’an (konteks penafsiran)

Pendekatan Sosiologi memiliki peranan yang sangat penting dalam usaha untuk memahami dan menggali makna-makna yang sesungguhnya dikehendaki oleh al-Qur’an. Selain disebabkan oleh Islam sebagai agama yang lebih mengutamakan hal-hal yang berbau sosial daripada individual yang terbukti dengan banyaknya ayat al-Qur’an dan Hadits yang berkenaan dengan urusan muamalah (sosial), hal ini juga disebabkan banyak kisah dalam al-Qur’an yang kurang bisa dipahami dengan tepat kecuali dengan pendekatan sosiologi. Sebagai contoh, kisah Nabi Yusuf yang dulunya budak lalu akhirnya menjadi penguasa di Mesir dan kisah nabi Musa yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh Nabi Harun. Kedua kisah itu baru dapat dimengerti dengan tepat dan dapat ditemukan hikmahnya dengan bantuan ilmu sosial.

Selain itu, dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa Allah mengharapkan adanya suatu umat yang menjadi saksi atas manusia (syuhada ala al nas). Fungsi ini, antara lain dapat diwujudkan melalui penelitian empiris. Tema-tema tentang keadilan, takwa, musyawarah, tolong menolong, amal saleh, dan lain sebagainya dapat diteliti sampai sejauh mana tema-tema tersebut dipraktekkan dalam masyarakat.

Salah satu rumusan penelitian al-Qur’an yang diidentifikasikan dengan istilah living Qur’an adalah salah satu paradigma dalam menempatkan al-Qur’an sesuai dengan masyarakat pembacanya. Definisi living Qur’an sebagai studi tentang al-Qur’an, tetapi tidak bertumpu pada eksistensi tekstualnya, melainkan studi tentang fenomena sosial yang lahir terkait dengan kehadiran al-Qur’an dalam wilayah geografi tertentu dan mungkin masa tertentu.[24]

Upaya tentang penelitian living Qur’an dengan akar pendekatan sosiologis adalah semata-mata tidak untuk mencari kebenaran positivistik yang selalu melihat konteks, tetapi semata-mata melakukan “pembacaan” obyektif terhadap fenomena keagamaan yang menyangkut langsung dengan al-Qur’an. Kalau living Qur’an ini dikategorikan sebagai penelitian agama dengan kerangka penelitian agama sebagai gejala sosial, maka desainnya akan menekankan pentingnya penemuan keterulangan gejala yang diamati sebelum sampai pada kesimpulan.[25]

Living Qur’an sebagai penelitian yang bersifat keagamaan (religious research) menempatkan agama sebagai sistem keagamaan, yakni sistem sosiologis, suatu aspek organisasi sosial dan hanya dapat dikaji secara tepat jika karakteristik itu diterima sebagai titik tolak.[26] Dalam rumusan ini agama diletakkan sebagai sebuah gejala sosial bukan doktrin semata. Living Qur’an dimaksudkan bukan sebagai pemahaman individu atau kelompok orang dalam memahami al-Qur’an (penafsiran) akan tetapi bagaimana al-Qur’an itu disikapi dan direspon masyarakat Muslim dalam realitas kehidupan sehari-hari menurut konteks budaya dan pergaulan sosial. Dalam penelitian model living Qur’an yang dicari bukan kebenaran agama lewat al-Qur’an atau bersifat menghakimi (judgment) sekelompok agama tertentu dalam Islam, tetapi lebih mengedepankan penelitian tentang tradisi yang menggejala (fenomena) di masyarakat dilihat dari perspektif kualitatif. Meskipun al-Qur’an terkadang dijadikan sebagai simbol keyakinan (symbolic faith) yang dihayati yang kemudian diekspresikan dalam perilaku keagamaan; maka dalam living Qur’an ini diharapkan dapat menemukan segala sesuatu dari hasil pengamatan (observasi) yang cermat dan teliti atas perilaku komunitas muslim dalam pergaulan sosial keagamaannya hingga menemukan segala unsur yang menjadi komponen terjadinya perilaku itu melalui struktur luar dan struktur dalam (deep structure) agar dapat ditangkap makna dan nilai-nilai (meaning and values) yang melekat dari sebuah fenomena yang diteliti.[27]

C. KESIMPULAN

Kecenderungan para sosiolog yang selama bertahun-tahun mengabaikan signifikansi sosial agama dengan cepat mengakui berkembangnya peran agama dalam gerakan-gerakan kultural dan resistensi etis dalam masyarakat yang belum atau postmodern, di dunia yang telah maupun yang sedang berkembang. Nasib agama di dunia yang belum modern sama sekali tidak pasti, tetapi tidak diragukan bahwa ulasan-ulasan sosiologis mengenai dunia kehidupan umat beriman dan komunitas keagamaan, dan pandangan-pandangan sosiologis tentang peran ideologi dan organisasi keagamaan dalam masyarakat kontemporer, memberikan petunjuk penting tentang perjalanan agama dan upaya penelitian agama.

Penelitian seputar living Qur’an sebagai sebuah tawaran paradigma alternatif yang menghendaki bagaimana hubungan timbal balik (feedback) dan respons masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dapat dibaca, dimaknai secara fungsional dalam konteks fenomena sosial, dimana fungsionalisasi al-Qur’an mampu membentuk dunia sosial. Banyak kategori ayat-ayat dalam al-Qur’an yang memerlukan pendekatan sosiologis secara utuh seperti ayat-ayat tentang kisah Nabi Yusuf, Nabi Musa, dll serta pelbagai pesan moral dan sosial dalam ayat-ayat keadilan, ketaqwaan, keimanan dll; memerlukan pendekatan sosiologis sehingga makna dan kandungan ayat dapat diaktualisasikan sebagaimana pesan living Qur’an. [ ]

DAFTAR PUSTAKA

Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas?, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996

Betty R.Scharf, Kajian Sosiologi Agama,(terj), Yogyakarta: Tiara Wacana, 1995

Horton, Paul B, & Chester L.Hunt, Sosiologi, 6th edition (terj), Jakarta: Erlangga, 1991

Johnson, Doyle Paul, Sociological Theory Classical Founders and Contemporary Perspektive, (terj) Robert M.Z Lawang, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Jakarta: Gramedia, 1994, cet.3

Mudzhar, H.M.Atho DR, Pendekatan Studi Islam dalam teori dan praktek, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002, cet.iv

Syamsuddin, Sahiron DR.Phil.(ed), Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis, Yogyakarta: Teras, 2007, cet.1

http://id.wikipedia.org/wiki/sosiologi

http://nie07independent.wordpress.com/teori-sosiologi-dan-antropologi/

J. Dwi Narwoko-Bagong Suyanto (ed), Sosiologi teks pengantar & terapan, Jakarta: Kencana, 2007, cet.3.

Middleton, John, The Religious System dalam Raul Naroll (ed), A Honbook of Method in Cultural Anthropology, New York: Columbia University Press, 1973

Yusuf, Moh.Asror (ed), Agama sebagai Kritik Sosial di tengah arus kapitalisme global, Yogyakarta: IRCiSoD, 2006

Mulyanto Sumardi, Penelitian Agama masalah dan pemikiran, (Jakarta: Sinar Harapan, 1982), cet.1,

Peter Connolly (ed.), Approach to the Study of Religion, diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia dengan judul, Aneka Pendekatan Agama¸terj, Imam Khoiri Yogyakarta: LKIS, 2002

Robertson, Roland, (ed), Agama: Dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994, cet.iv

Taufik Abdullah-M.Rusli Karim (ed), Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1989



[1] Taufik Abdullah-M.Rusli Karim (ed), Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1989), hlm.1

[2] J.Dwi Narwoko-Bagong Suyanto (ed), Sosiologi teks pengantar & terapan, (Jakarta: Kencana, 2007), cet.3, hlm.3

[3] Makna “beragama” mempunyai banyak konotasi dalam perilaku masyarakat. Pertama: agama sebagai doktrin; dimana esensinya adalah berdekata dengan usaha pencarían kebenaran agama, sebagaimana para mujtahid dan pemikir agama melakukannya. Tradisi ilmiah yang melingkupi penelitian agama ini adalah Religionwissenschaft (ilmu keagamaan/ilmu perbandingan agama). Ini untuk menjawab makna agama bagi manusia. Kedua: agama sebagai struktur dan dinamika masyarakat agama (komunitas kognitif), dimana agama merupakan awal dari suatu terbentuknya suatu komunitas atau kesatuan hidup yang diikat oleh keyakinan akan kebenaran hakiki yang sama, yang memungkinkan berlakunya suatu patokan pengetahuan yang sama pula. Jadi meskipun berasal dari suatu ikatan spiritual para pemeluk agama membentuk masyarakat sendiri yang berbeda dari komunitas kognitif lainnya.Ketiga: beragama sebagai bagian usaha untuk mengungkapkan sikap anggota masyarakat terhadap agama yang dianutnya. Jika kategori pertama mempersoalkan substansi ajaran dengan segala refleksi pemikiran terhadap ajaran ; kategori kedua meninjau agama dalam kehidupan sosial dan dinamika sejarah; Maka kategori ketiga adalah usaha untuk mengetahui corak penghadapan masyarakat terhadap simbol dan ajaran agama. Lihat Taufik Abdullah-M.Rusli Karim (ed), Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1989),hlm.xiii-xv

[4] Lihat Moh.Asror Yusuf (ed), Agama sebagai Kritik Sosial di tengah arus kapitalisme global, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2006), hlm.31

[5] Peter Connolly (ed.), Approach to the Study of Religion, diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia dengan judul, Aneka Pendekatan Agama¸terj, Imam Khoiri (Yogyakarta: LKIS, 2002), hlm.267

[6] Konsep penelitian agama: penelitian sebagai cara mencari kebenaran agama dan sebagai usaha untuk menemukan dan memahami “kebenaran” dari realitas empiris.

[7] Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Jadi Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi, sosial. Istilah Sosiologi sebagai cabang Ilmu Sosial dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, bernama August Comtetahun 1842. Sehingga Comte dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Selanjutnya Émile Durkheim — ilmuwan sosial Perancis — yang kemudian berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis. Di Inggris Herbert Spencer mempublikasikan Sosiology pada tahun 1876. Di Amerika Lester F.Ward mempublikasikan Dynamic Sosiology. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum. Lihat dalam http://id.wikipedia.org/wiki/sosiologi

[8] J.Dwi Narwoko-Bagong Suyanto (ed), Op.Cit, hlm.2

[9] http://id.wikipedia.org/wiki/sosiologi

[10] Ibid, hlm.4

[11] J.Dwi Narwoko-Bagong Suyanto (ed), Op.Cit, hlm.3

[13] Doyle Paul Johnson, Sociological Theory Classical Founders and Contemporary Perspektive, (terj) Robert M.Z Lawang, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, (Jakarta: Gramedia, 1994), cet.3, hlm.4

[14] Peter Connolly (ed.), Op.Cit, hlm.269-270

[15] J.Dwi Narwoko-Bagong Suyanto (ed), Op.Cit, hlm.4

[17] Peter Connolly (ed.), Op.Cit, hlm.279

[18] Peter Connolly (ed.), Op.Cit, hlm. 279

[19] Paradigma adalah pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan. Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan apa yang mesti dijawab, bagaimana seharusnya menjawab serta aturan-aturan apa saja yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan tersebut.

[20] DR.Phil. Sahiron Syamsuddin (ed), Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis, (Yogyakarta: Teras, 2007), cet.1, hlm 51

[21] Ibid, hlm.55

[22] Mulyanto Sumardi, Penelitian Agama masalah dan pemikiran, (Jakarta: Sinar Harapan, 1982), cet.1, hlm.59-60

[23] DR.H.M.Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam dalam teori dan praktek, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), cet.iv, hlm.43

[24] DR.Phil. Sahiron Syamsuddin (ed), Op.Cit, hlm 39

[25] DR.H.M.Atho Mudzhar, Op.Cit, hlm 68

[26] John Middleton, The Religious System dalam Raul Naroll (ed), A Honbook of Method in Cultural Anthropology (New York: Columbia University Press, 1973), hlm. 502 & 507

[27] DR.Phil. Sahiron Syamsuddin (ed), Op.Cit, hlm.50

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar